Tuesday, April 28, 2020

Keterampilan Dasar Mengajar II

TUGAS

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

“ Keterampilan Dasar Mengajar II“


Disusun Oleh:

Nama          : Elgi Novita Anggrani
NIM             : 1820172

Kelas           : PGSD 4.4



DOSEN PENGAMPU

Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 

PADANG

2020







      A.   Keterampilan Membuka Dan Menutup Pembelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pelajaran dan buku-buku yang akan dipakai dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan penyampaian materi pelajaran. Kegiatan membuka pelajaran ada kaitannya langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk me-ngakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran juga tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti memberi tugas dirumah, tetapi kegiatan yang ada kegiatan langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran dalam pembelajaran, mempunyai pengaruh positif terhadap proses dan hasil belajar. Pengaruh positif itu antara lain:
1.   Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untuk menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan.
2.  Siswa mengetahui dengan pasti batas-batas tugas yang akan dikerjakan.
3.  Siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran.
4.  Siswa mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asing baginya.
5.  Siswa dapat menggabungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang tercakup dalam suatu peristiwa, serta
6.  Siswa dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu, Sedangkan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mengajar.
Sebagaimana keterampilan mengajar lainnya, ada prinsip-prinsip yang mendasari penggunaan komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran yang harus dipertimbangkan oleh guru. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:
1.     Bermakna
Dalam usaha menarik perhatian atau memotivasi siswa guru hendaknya memilih cara yang relevan dengan isi dan tujuan pelajaran. Cara atau usaha yang sifatnya dicari-cari atau dibuat-buat hendaknya dihindarkan. Ceritera singkat atau lawakan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran mungkin sementara bisa memikat siswa tetapi akan gagal dalam mewujudkan kelangsungan penguasaan pelajaran
2.    Berurutan dan berkesinambungan
Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya merupakan bagian dari kesatuan yang utuh. Dalam mewujudkan prinsip berurutan dan berkesinambungan ini perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat siswa, ada kaitannya yang jelas antara satu bagian dengan bagian lainnya, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilki siswa.

Komponen-Komponen Keterampilan Membuka Pelajaran
Penerapan keterampilan membuka pelajaran pada awal suatu jam pelajaran atau pada setiap penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran itu meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan dan membuat kaitan. Tiap komponen terdiri dari beberapa kelompok aspek dan kegiatan yang saling berhubungan. Sebagai keterampilan maka sifatnya integratif dan ada beberapa komponen yang tumpang tindih. Komponen-komponen dan aspek-aspeknya menurut Abimanyu (1985) adalah sebagai berikut:
1.  Menarik perhatian siswa
Banyak cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa, antara lain seperti berikut:
a.    Gaya mengajar guru.
b.    Penggunaan alat bantu mengajar
c.    Pola interaksi yang bervariasi
2.  Menimbulkan motivasi
Guru hendaknya melakukan berbagai cara untuk menimbulkan motivasi itu. Sedikitnya ada 4 (empat) cara untuk menimbulkan motivasi, yaitu:
a.      Dengan kehangatan dan keantusiasan.
b.     Dengan menimbulkan rasa ingin tahu
c.      Mengemukakan ide yang bertentangan
d.      Dengan memperhatikan minat siswa 
3. Memberi acuan (structuring)
hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari materi pelajaran. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
a.    Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas.
b.    Menyarankan langkah – langkah yang akan dilakukan
c.     Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
d.    Mengajukan pertanyaan – pertanyaan
4. Membuat kaitan
Jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru, guru perlu menghubungkannya dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman, minat, dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Hal itulah yang disebut bahan pengait. Contoh usaha-usaha guru untuk membuat kaitan:
a.   Membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa. Dalam permulaan pelajaran guru meninjau kembali sampai seberapa jauh pelajaran yang diberikan sebelumnya telah dipahami. Caranya, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa, tetapi dapat pula merangkum isi materi pelajaran terdahulu secara singkat. Misalnya, sebelum mengajarkan pembagian dua pecahan, guru mengulang kembali bagaimana mengalikan bilangan pecahan.
b.  Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui. Hal ini dilakukan jika bahan baru itu erat kaitannya dengan bahan pelajaran yang telah dikuasai. Misalnya, guru lebih dahulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan dan perkalian bilangan cacah sebelum mengajarkan pembagian bilangan cacah.
c.   Guru menjelaskan konsep atau pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan bahan secara terperinci. Hal ini dilakukan karena bahan pelajaran yang akan dijelaskan sama sekali baru. Misalnya, untuk menjelaskan perkalian dua guru terlebih dahulu menjelaskan jumlah kaki unggas, seperti ayam, itik, burung, sepeda, sepeda motor, dan sebagainya.

Komponen-Komponen Keterampilan Menutup Pelajaran
Menjelang akhir dari suatu pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran. Hal ini harus dilakukan agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang telah dipelajari. Menurut Abimanyu (1985) cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran ini adalah sebagai berikut:
1.     Meninjau Kembali
Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan telah dikuasai siswa. Ada dua cara meninjau kembali penguasaan inti pelajaran itu, yaitu merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
a.    Merangkum inti pelajaran.
b.  Membuat ringkasan
2. Mengevaluasi
Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang suatu konsep yang diajarkan selama satu jam pelajaran atau sepenggal kegiatan tertentu adalah dengan penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas.
Bentuk-bentuk evaluasi itu secara terperinci adalah sebagai berikut:
a.   Mendemonstrasikan keterampilan.
b.  Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
c.   Mengekspresikan pendapat siswa sendiri
d.  Soal – soal tertulis
     B.  Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
1.     Pengertian diskusi kelompok kecil
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses kegiatan yang berlansung secara terkontrol dan teratur, dengan beberapa orang saling bertatap muka digabung menjadi satu kelompok atau kelompok kecil yang saling berinteraksi mengungkapkan pemikiran masing-masing. Diadakannya diskusi kelompok kecil, agar peserta didik dapat saling bertukar informasi ataupun pengalaman, sehingga peserta didik mampu menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah.
2.    Tujuan diskusi
Adapun tujuan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, yaitu :
1.   Agar peserta didik dapat memberi dan menerima informasi  baru maupun pengalaman dalam memecahkan suatu masalah.
2.  Agar peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan berkomunikasi dengan orang lain.
3.  Melibatkan peserta didik dalam perencanaan dan penggambilan keputusan.
3.    Manfaat diskusi bagi peserta didik
Kegiatan diskusi sering dilakukan dalam pembelajaran ketika membahas suatu permasalahan atau topik dan mewajibkan peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Dilakukannya diskusi untuk melatih peserta didik mengungkapkan pendapatnya, saling berbagi informasi untuk memperoleh kesimpulan bersama. Adapun manfaat diskusi bagi peserta didik, sebagai berikut :
a.    Mengembangkan kemampuan berpikir. 
b.     Mengembangkan kemampuan berkomunikasi. 
c.    Meningkatkan motivasi belajar. 
d.     Mengembangkan sikap saling membantu. 
e.     Meningkatkan pemahaman. 
f.     Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
g.    Berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalahMeningkatkan kerjasama yang sehat. 
h.     Meningkatkan toleransi. 

4.     Tahap-tahap kegiatan diskusi
Adapun tahap-tahap dalam kegiatan diskusi kelompok, yaitu:
a.    Memusatkan perhatian peserta didik. 1) Merumuskan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi, dinyatakan melalui pernyataan dan pertanyaan yang meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik. 2) Mengemukakan masalah-masalah khusus. 3) Catat perubahan-perubahan yang tidak relevan atau menyatakan kembali bila terjadi penyimpangan diskusi dari tujuan atau masalah pokok yang sedang dipecahkan. 4) Rangkum hasil pembicaraan diskusi yang telah dilakukan.
b.    Memperjelas pendapat peserta didik. Adapun cara untuk membantu mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, yaitu: 1) Mengurai kembali gagasan peserta didik yang kurang jelas menjadi lebih jelas sehingga semua anggota kelompok menjadi paham. 2) Pendidik meminta peserta didik komentar melalui pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide-ide tersebut. 3) Menguraikan gagasan peserta didik dengan memberikan informasi-informasi tambahan atau contoh-contoh dilingkungan sekitar yang sesuai dengan topiik bahasan, sehingga semua kelompok memperoleh pengetahuan yang lebih jelas  dan
c.    Menganalisis pandangan peserta didik. Pada kegiatan diskusi akan ada banyak perbedaan pendapat di antara anggota kelompok. Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, pendidik hendaknya mampu menganalisis alasan perbedaan pendapat tersebut dengan cara sebagai berikut: 1) Meneliti apakah alasan tersebut mempunyai dasar yang kuat atau tidak. 2) Memperjelas kembali hal-hal yang disepakati maupun yang tidak disepakati sebelumnya.
d.    Meningkatkan kontribusi peserta didik. Yakni, 1) Pendidik bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang agar peserta didik berpikir secara kritis. 2) Memberikan contoh-contoh secara verbal yang sesuai dengan topik bahasan secara tepat. 3) Pendidik memberikan waktu peserta didik untuk berpikir. 4) Memberikan apresiasi.
e.    Menyebarkan kesempatan berpartisipasi. Yakni, 1) Mencoba memancing pendapat peserta didik yang enggan berpartisipasi dalam diskusi dengan mengarah langsung dengan bijaksana. 2) Mencegah terjadinya pembicaraan yang serentak dengan memberi kesempatan kepada peserta didik yang pendiam terlebih dahulu. 3) Secara bijaksana mencegah peserta didik yang sering memonopoli pembicaraan. 4) Pendidik dapat meminta peserta didik untuk berkomentar tentang pendapat temannya sehingga interaksi peserta didik dapat ditingkatkan.
f.    Menutup diskusi. Yakni, 1) Dengan adanya bantuan peserta didik, membuat rangkuman hasil diskusi yang telah dilakukan. 2) Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi atau tentang topik yang akan dibahas 3) Mengajak peserta didik untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai.

5.    Syarat kelompok yang efektif
Untuk menjadikan kelompok diskusi yang efektif memiliki syarat sebagai berikut:
a.    Anggota kelompok heterogen, kelompok yang terdiri dari peserta didik yang berbeda-beda kemampuan, dari yang kemampuan akademisnya tinggi,sedang hingga yang berkemampuan kurang.
b.    Anggota mampu mengatasi masalah tersebut setelah menyadari dan memahami potensi serta kelemahan dan potensi untuk mengatasi masalah yang dibahas.
c.    Masalah yang dibahas mengakibatkan timbulnya berbagai jawaban yang berbeda-beda.
d.    Tiap anggota bertanggung jawab memberikan sumbangan untuk mencapai tujuan kelompok.
e.    Dalam kegiatan kelompok terjadi proses pertukaran pendapat.

1      6. Peran pendidik dalam diskusi

1.     Koordinator belajar, pendidik dapat mengkoordinir segala sesuatu yang dapat meningkatkan kemajuan belajar peserta didik.
2.    Fasilitator, pendidik dapat membantu mengelola suatu proses pertukaran informasi dalam suatu kelompok dan membantu bagaimana diskusi berlangsung.
3.    Perencana tugas bersama, pendidik yang merencanakan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.
4.    Katalisator adalah penghubung antar informasi dengan peserta
5.    Pemadu aktifitas peserta didik.
6.    Narasumber, pendidik sebagai narasumber untuk membantu peserta didik menyelesaikan suatu masalah, baik masalah individu maupun masalah sosial.
7.    Penilai kemajuan kelompok.


C.   Keterampilan Mengelola Kelas
1.      Pengertian keterampilan mengelola kelas

a.   Usman, 2013) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
b.  Menurut (Wardani, 2005) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan efektif.
c.   Menurut (Wina Sanjaya, 2005) bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.
d.  Menurut (Winataputra, 2004) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan yang digunakan oleh seorang guru dalam proses  pembelajaran guna untuk mengkondisikan belajar siswa dengan harapan supaya terjadi suatu kondisi kelas yang kondusif, memaksimalkan sarana dan prasarana, menjaga keterlibatan siswa, menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal dan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar. Maka dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas, perlu memperhatikan komponen keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran.
2.    Tujuan pengelolaan kelas
Menurut (Usman, 2002)  pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a.      Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
b.     Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
3.    Komponen keterampilan mengelola kelas
Menurut ( Wardani, 2005) komponen keterampilan mengelola kelas meliputi:
1)  Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
a.)  Modifikasi tingkah laku. 
b.)   Pengelolaan/ proses kelompok. 
c.)   Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
4.    Prinsip penggunaan keterampilan mengelola kelas
Menurut (Wardani, 2005) dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas perlu diingat 6 prinsip, yaitu:
1)     Kehangatan dan keantusiasan dalm mengajar, yang dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
2)    Menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa untuk berfikir.
3)    Menggunakan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
4)    Keluwesan guru dalam pelaksanaan tugas.
5)    Penekanan pada hal-hal yang bersifat positif.
6)    Penanaman disiplin diri sendiri
D. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil Dan Perorangan

1.   Peran guru dalam mengajar kelompok kecil dan perseorangan
Adapun peran guru dalam pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah sebagai berikut:
  1. Organisator kegiatan belajar mengajar. Dalam pengorganisasian ini yang paling utama adalah mengatur siswa dan memberikan tanggung jawab kepadanya untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru entah itu cara siswa melakukan kegiatan, mengatur lingkunganbelajar, ataupun mengoptimalkan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
  2. Sumber informasi bagi siswa. Guru adalah salah satu sumber informasi bagi siswa baik informasi mengenai langkah-langkah pelaksanaan tugas maupun informasi lainnya yang diperlukan oleh siswa
  3. Pendorong bagi siswa untuk belajar. Guru memberikan dorongan berupa motivasi agar siswa mau belajar. Guru harus menciptakan kondisi kelas yang merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam kelompok kecil dan perseorangan
  4. Orang yang mendiagnosa kesulitan siswa serta memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru mempunyai peranan mendiagnosa dalam proses pembelajaran diantaranya mengenal anak secara individual mengenai kemajuan belajar ataupun kesulitan yang dihadapi
  5. Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa. Guru juga harus menyediakan meteri pelajaran yang akan diajarkan / dipelajari oleh siswa dalam pengajaran kelompok kecil maupun perseorangan
  6. Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti siswa yang lainnya. Iniberarti guru ikut menyumbangkan pendapatnya untuk memecahkan masalah atau mencari kesepakatan bersama sebagaimana siswa lainnya melakukannya
Syarat-syarat agar mengajar kelompok kecil dan perseorangan agar dapat terwujud Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan variasi untuk menanganinya. Pengajaran kelompok kecil dan perorangan akan terwujud jika terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:
1)    Adanya hubungan yang sehat dan akrab antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa
2)   Siswa belajar dengan kecepatan, kemampuan, cara dan minat sendiri
3)   Siswa mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhannya
4)   Siswa dilibatkan dalam perencanaan belajar
5)   Guru dapat memainkan berbagai peran

2.  Prinsip-prinsip mengajar kelompok kecil dan perorangan
Adapun prinsip-prinsip dalam mengajar kelompok kecil dan perseorangan diantaranya:
  1. Tidak semua topik dapat disajikan dalam format kelompok kecil dan perseorangan
  2. Lakukan pengajaran kelompok kecil dan perseorangan secara bertahap
  3. Pengorganisasian siswa, sumber / materi, ruangan, dan waktu harus dilakukan secara cermat
  4. Guru harus mengenal siswa secara pribadi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan harus memberhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.   Pembelajaran dilakukan berdasarkan perbedaan individu. Karakteristik yang dimiliki oleh anak sd sangatlah beragam dan berbeda-beda entah itu kemampuan berfikir,tingkat emosional, bakat, minat, maupun perbedaan daya tangkapnya. Misal siswa yang agak agresif bisa dijadikan menjadi satu kelompok dengan siswa yang agak agresif atau siswa yang memiliki daya tangkap agak kurang juga dijadikan satu kelompok dengan siswa yang juga memiliki daya tangkap yang agak kurang juga. Lalu siswa-siswa yang sudah berada di dalam kelompok-kelompoknya diberikan layanan bimbingan belajar secara khusus. Cara ini bisa membantu meningkatkan ketrampilan sosial melalui belajar kelompok.
2.  Memperhatikan dan melayani kebutuhan siswa. Pada dasarnya siswa memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Misal jika ada siswa yang tidak mampu membeli buku paket sebaiknya guru meminta siswa lainnya untuk bersedia bersama-sama / bisa juga pihak sekolah memberikan pinjaman.
3.  Mengupayakan proses belajar mengajar yang aktif dan efektif. Cara untuk membuat pembelajaran aktif dan efektif guru harus berusaha semaksimal mungkin aktif di dalam memberikan bimbingan belajar. Misal setelah guru memberikan tugas diskusi kelompok guru harus selalu mengawasi jalanya diskusi dan juga membantu / membimbing siswa yang membutuhkan bantuan saat mengalami kesulitan.
4.  Merangsang tumbuh kembangnya kemampuan optimal siswa. Tugas guru tidak hanya mengajar saja akan tetapi tugas guru pada dasarnya adalah membantu tumbuh kembang siswa secara optimal baik aspek intelektual, aspek moral, aspek sosial, maupun aspek fisik. Secara tidak langsung guru telah membantu tumbuh kembang siswa-siswanya. Misal dari segi aspek moral, aspek emosional, aspek sosial dilakukan melalui teladan, cara pola asuh guru terhadap siswa, tutur bicara siswa / guru yaitu penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Dari segi aspek fisik misal guru mengadakan senam satu minggu sekali, guru mengadakan ekstrakulikuler olah raga. Dan siswa bisa mengikuti ekstrakulikuler tersebut sesuai bakat ataupun minat.
5.  Pergeseran dari pengajaran klasikal ke pengajaran kelompok dan perseorangan. Bagi calon guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perseorangan kemudian secara bertahap kepada pengajaran kelompok kecil. Sedangkan bagi guru yang sudah terbiasa menggunakan pengajaran klasikal sebaiknya mulai secara pengajaran kelompok kemudian kepada perseorangan. Karena tidak semua topk pembahasan bisa di selesaikan dengan cara kelompok kecil maupun perseorangan. Misal jika siswa diminta memahami teori, konsep maupun prinsip sumber daya alam (sda) maka akan efektif jika pembelajaran dilakukan dengan cara klasikal sedangkan jika siswa diminta untuk membuktikan sifat-sifat konduktor, konduksi, dan radiasi melalui eksperimen sebaiknya dilakukan secara kelompok kecil atau perorangan.
6.  Langkah pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Dalam kelompok kecil langkah-langkahnya adalah mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta waktu yang diperlukan. Dalam pengajaran perorangan guru terlebih dahulu harus mengenal pribadi siswanya. Misal siswa yang memiliki kesulitan soal maematika penjumlahan guru perlu memberikan bimbingan perseorangan.
7.  Menggunakan berbagai variasi dalam pengorganisasiannya. Ada tiga variasi pengorganisasian yaitu variasi pengelompokan, variasi penataan ruang, dan variasi sumber belajar. Di dalam pembelajaran pasti akan ada kebosanan dikarenakan guru tidak akan mungkin bisa mengontrol secara terus menerus terhadap semua kelompok belajar. Untuk menghindari kebosanan ini haruslah ada variasi dalam pembelajaran. Misal siswa diminta memilih sendiri kelompok belajarnya, bisa juga siswa ditawarkan untuk memilih sumber belajar yang diinginkan saat kegiatan pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA
Supriadi, didi dan Deni Darmawan. 2012 . Komunikasi Pembelajaran. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Sadirman. 2011. Interaksi dan motivasi belajar mengajar Jakarta: rajawali pers.

Kurniawan, Agung Budi, Saptanto Hari Wibawa. 2014. Pelatihan Pengajaran Micro Teaching. Surakarta: Oase Pustaka.

Suwarna, dkk. 2005. Pengajaran Mikro, Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Cv. Alfabet.

Kegiatan Pengayaan

KEGIATAN PENGAYAAN

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
“ Kegiatan Pengayaan“

Disusun Oleh:

Nama     : Elgi Novita Anggrani
NIM      : 1820172
Kelas      : PGSD 44

DOSEN PENGAMPU
Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020






1.    Pengertian Pembelajaran Pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Program pengayaan dapat diartikan memberikan tambahan/perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum.
Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya. Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.
Pengayaan pada kegiatan pembelajaran ditunjukkan oleh digunakannya sumber belajar, metode pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang bervariasi dibandingkan pembelajaran biasa. Dengan pemanfaatan komponen-komponen yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, maka siswa dapat melakukan proses belajar secara efektif. Sebagai contohnya siswa diminta untuk membaca sumber pustaka lain selain buku wajib, mengakses internet, diberi tugas pemecahan masalah yang lebih tinggi pengembangan penalarannya, melakukan penyelidikan sederhana, yang relevan dengan materi yang dipelajari. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan pengayaan bagi proses pembelajaran. Program pengayaan ini diberikan kepada kelompok siswa yang sudah mencapai batas ketuntasan belajar.
Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik.Dalam program pengayaan, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan.
2.    Hakikat Pembelajaran Pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.
Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.
Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.
3.    Tujuan Pembelajaran Pengayaan
Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.


4.    Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
a.    Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.
b.    Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
c.    Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.
Pemecahan masalah ditandai dengan:
1)      identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan;
2)      penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan;
3)      penggunaan berbagai sumber;
4)      pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan;
5)      analisis data; dan
6)      penyimpulan hasil investigasi
Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.
5.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Pengayaan
Prinsip-prinsip program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan menurut Khatena (1992):
a.       Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.
b.      Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.
c.       Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini.
Sedangkan Passow (1993) menyarankan bahwa dalam merancang program pengayaan, penting untuk memperhatikan 3 hal:
a.       Keluasan dan kedalaman dari pendekatan yang digunakan.
Pendekatan dan materi yang diberikan tidak hanya berisi yang yang luarnya (kulit-kulitnya) saja tetapi diberikan dengan lebih menyeluruh dan lebih mendalam. Contoh: membahas mengenai prinsip Phytagoras, tidak hanya memberikan rumus dan pemecahan soal saja tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai sejarah terbentuknya hukum-hukum phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Tempo dan kecepatan dalam membawakan program
Sesuaikan cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan daya tangkap yang dimiliki peserta didik sehingga materi dapat diberikan dengan lebih mendalam dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan karena peserta didik yang telah menguasai materi pelajaran yang diberikan di kelas.




c.       Memperhatikan isi dan tujuan dari materi yang diberikan
Hal ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih tepat guna dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979) menyatakan bahwa program pengayaan berbeda dengan program akselerasi karena pengayaan dirancang dengan lebih memperhatikan keunikan dan kebutuhan individual dari peserta didik.
6.    Langkah-langkah Pembelajaran Pengayaan
Langkah-langkah dalam pembelajaran pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian otentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat, sehingga peserta didik seringkali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Disinilah di butuhkan kepekaan guru dalam merencanakan danmemutuskan untuk melaksanakan pembelajaran pengayaan.
Winner (1996) dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta didik yang berbakat antara lain :
a.       Pesrerta didik yang berbakat biasanya cermat dalam setiap hal atau pun kesempatan dimana mereka harus menggunakan kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu menjadi yang pertamadalam menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga minimal dibanadingkan teman-teman atau peserta didik lain yang dikarenakan mereka sejak lahir memiliki kemampuan yang tinggi dalam stu atau beberapa bidang.
b.      Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik yang berbakat dapat berhasil memecahkan masalah secara tepat dengan cara ia kembangkan atau ia temukan sendiri. Peserta didik yang berbakat dapat menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang tidak eksplisit dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
c.       Memiliki hasrat untuk menguasai. Mereka memiliki hasrat, obsesi dan minat, dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat mudah baginya untuk memahami dan menguasai suatu hal.
Guru diharapkan lebih peka dalam mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik ini, dikarenakan mereka memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan dengan teman-temannya.
7.    Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.
a.       Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
1)      Tujuan
Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:
a)      Belajar lebih cepat.
Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
b)      Menyimpan informasi lebih mudah.
 Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.


c)      Keingintahuan yang tinggi.
Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
d)     Berpikir mandiri.
Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
e)      Superior dalam berpikir abstrak.
Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
f)       Memiliki banyak minat.
Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.
2)      Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, dan pengamatan (observasi).
a)      Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
b)      Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
c)      Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
d)     Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.
b.   Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
1)      Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
2)      Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
3)      Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
4)      Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.
Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.

8.    Penilaian Pembelajaran Pengayaan
Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.




DAFTAR PUSTAKA

Yuliati,lia.2009. Pengembangan Pembelajaran IPA SD.
Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim.2011..GPL Ghostscript
8.61
Direktorat Pendidikan Nasional Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar Dan
Menengah Direktorat Pembinaan SMA
Sasmedi, Darwis.2011.Pembelajaran Remedial.LPMP:Sulawesi Selatan.

Mumun,Siti Muniroh.20011.Penerapan Psikologi Humanistik.Acrobat Distiller
7.0 (Windows)