Monday, March 23, 2020

Hakikat Media Pembelajaran

Strategi Pembelajaran di SD

" Hakikat Media Pembelajaran "


Disusun Oleh :

Elgi Novita Anggrani
1820172 

PGSD 4.4

Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN ADZKIA

PADANG

2020

A.   Hakikat Media Dalam Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pebelajar dan guru sebagai fasilitator, yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah terjadinya proses belajar (learning process).

Slameto membagi dalam kategori perubahan dalam belajar, antara lain:
1.     Belajar sifatnya disadari dan disengaja. Dalam hal ini siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar dan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin meningkat dibandingkan sebelum mengikuti proses pembelajaran .
2.    Perubahan yang berkesinambungan Hasil dari belajar diperoleh dengan adanya proses, kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam hal ini pengetahuan yang diperoleh, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
3.    Perubahan yang bersifat positif Perubahan yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan kearah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang psikologi pendidikan menganggap bahwa dalam proses belajar mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individu atau prilaku perkembangan peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran psikologi pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip perbedaan individu dan prinsip-prinsip perkembangan individu jika kelak ia menjadi guru.
4.    Perubahan yang bersifat aktif Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan dengan melakukan kegiatan aktif membaca, dan mengkaji buku, mencari informasi tentang pengetahuan yang baru.
5.    Perubahan yang fungsional Setiap perubahan prilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
6.    Perubahan yang bertujuan dan terarah Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam jangka pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Sebagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
7.    Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan,Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekadar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-teori Belajar” dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “ Teori-teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-teori Belajar”.
8.    Perubahan yang Bersifat Permanen,Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas dari suatu komunikasi, baik faktor yang terjadi pada pengiriman maupun pada penerima pesan. Ishak (1995:3) menjelaskan diantaranya:

1.     Kemampuan berkomunikasi penyampai pesan seperti kemampuan berbahasa dan kemampuan menulis. Sedangkan faktor dari penerima pesan diantaranya kemampuan untuk menerima dan menangkap pesan seperti mendengar, melihat, dan menginterpretasikan pesan.
2.     Sikap dan pandangan penyampai pesan kepada penerima pesan dan sebaliknya. Misalnya, rasa benci, pandangan negatif, prasangka, merendahkan satu diantara kedua belah pihak, sehingga akan menimbulkan kurangnya respon terhadap pesan yang disampaikan.
3.    Tingkat pengetahuan baik penerima maupun penyampai pesan. Sumber pesan yang kurang dipahami, informasi yang ingin dicapai akan mempengaruhi gaya dan sikap dalam proses penyampaian pesan. Sebaliknya penerima pesan yang kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terhadap informasi yang disampaikan tidak akan mampu menerima informasi itu dengan baik.
4.     Latar belakang sosial budaya dan ekonomi penyampai pesan serta penerima pesan. Ketanggapan penerima pesan dalam merespon informasi tergantung dari siapa dan oleh siapa pesan itu disampaikan Berdasarkan uraian di atas, jelas tergambar bahwa media merupakan bagian dari proses komunikasi. Baik buruknya sebuah komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersebut. Saluran (channel) yang dimaksud di atas adalah media.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu kepenerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran atau media dan penerima pesan adalah merupakan komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah materi pembelajaran yang sudah ada dalam kurikulum. Sumber pesan bisa guru, TV, buku, koran, majalah dan siswa. Dalam sistem pembelajaran modern saat ini, siswa tidak hanya berperan sebagai komunikan atau penerima pesan, bisa saja siswa bertindak sebagai komunikator atau penyampai pesan. Dalam kondisi seperti itu, maka terjadi komunikasi dua arah (two way traffic communication) atau komunikasi banyak area (multi way traffic communication). Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan dan kompetensi pembelajaran.

B.    Pengertian Media. Kata media

berasal dari bahasa latin, dan merupakan bentuk jamak dari kata ”medium”. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Areif Sardiman, dkk. (1996) mengemukakan arti media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepenerima pesan. Kemudian telah banyak pakar dan juga organisasi yang memberikan batasan mengenai pengertian media.

Beberapa diantaranya mengemukakan bahwa media adalah sebagai berikut:
1. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaat untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru (Schram, 1982).
2. National Education Asociation (NEA) memberikan batasan bahwa media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual,termasuk teknologi perangkat kerasnya.
3. Briggs berpendapat bahwa bahwa media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar.
4. Asociantion of Education Comunication Tecnology (AECT) memberikan batasan bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
5. Gagne berpendapat bahwa berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
6. Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa untuk belajar (Miarso, 1989).
7. Menurut Heinich, (1993) media merupakan alat saluran komunikasi.Heinich mencontohkan media seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed material), komputer, dan instruktur.
Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai media pembelajaran jika membawa pesan-pesan (massages) dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Heinich juga mengkaitkan hubungan antara media dengan pesan dan metode (Methods).

Dari berbagai pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa dasarnya semua pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya semua pendapat tersebut memposisikan media sebagai suatu alat atau sejenisnya, yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran, dimana keberadaan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa. Bila media adalah sumber belajar , maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Sejarah Perkembangan Media Pembelajaran Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Namun dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian berkembang dengan adanya buku. Pada masa itu seorang tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis  Sensualium  Pictus  (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tidak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar.

Landasan Penggunaan Media Pembelajaran Agar interaksi belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien perlu digunakan media yang tepat. Ketepatan yang dimaksud tergantung pada tujuan pembelajaran, pesan (isi) pembelajaran dan karakteristik siswa yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.Dalam konteks ini, penulis akan mengutip pendapat (Sadiman, 1990). mengenai landasan media pembelajaran sebagai berikut:

1.Landasan filosofis.

Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi.

2.Landasan Psikologis.
Belajar adalah proses yang kompleks dan unik; artinya, seseorang yang belajar melibatkan segala aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari semua aspek kepribadian ini akan nampak dari perilaku belajar orang itu. Perilaku belajar yang nampak adalah unik, artinya perilaku itu hanya terjadi pada orang itu dan tidak pada orang lain.


DAFTAR RUJUKAN

Sadiman Arief (dkk), 1996 , Media Pendidikan,Jakarta: Rajawali Press, hal 6

Schramm, Wilbut, 1978, ”Draf sampler of Distance Education”. Hawaii: East-West Communication Institute

AECT.”The Definition of Educational Tecnology,” 1977. Edisi Indonesia Diterbitkan CV

Rajawali dengan judul Defenisi Teknologi Pendidikan. Seri sPustaka Teknologi Pendidikan No.7)

Heinich R, et all, 1996, Instructional Media and Tecnologies for Learning, 5 edition, New York : Macmillan Publishing Company

Bovee.Courland, (1997) Business Communication Today. Prentice Hall : New York

Friday, March 20, 2020

Prosedur Pembelajaran

TUGAS STRATEGI PEMBELAJARAN
PROSEDUR PEMBELAJARAN

Description: Image result for logo stkip adzkia

Oleh :
Elgi Novita Anggrani 
1820172
PGSD 4.4
Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 ADZKIA PADANG
2020


A. Kegiatan Pra Pembelajaran dan Kegiatan Awal Pembelajaran

 a. Kegiatan Pra Pembelajaran

      Anitah Sry ( 2007 : 4.3 ) menyatakan bahwa proses pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila, guru dapat mengkondisikan kegitan belajar secara efektif. Kondisi belajar tersebut harus dimulai dari tahap pembelajararan. Kegiatan pra pembelajaran atau disebut juga kegiatan prainstruksional adalah kegiatan pendahuluan pembelajaran yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengikuti pelajaran. Kegiatan pra pembelajaran biasanya bersifat umum dan tidak berkaitan langsung dengan kompetensi atau materi yang akan dibahas dalam kegitanan inti pembelajaran.

     Upaya yang dapat dilakukan guru pada tahap pra pembelajaran sebagai berikut:
  1. Menciptakan Sikap dan Suasana Kelas yang Menarik yaitu  kondisi belajar dapat dipengaruhi oleh sikap guru di depan kelas. Guru harus memperliahatkan sikap yang menyenangkan supaya siswa tidak merasa tegang, kaku, bahkan takut mengikuti pembelajaran. Kondisi yang menyenangkan ini harus diciptakan mulai dari awal pembelajaran sehingga siswa akan mampu melakukan aktivitas belajar dengan penuh percaya diri tanpa ada tekanan yang dapat menghambat aktivitasnya.
  2. Memeriksa Kehadiran Siswa yaitu kegiatan yang dilakukkan guru pada jam pertama pembelajaran adalah mengecek kehadiran siswa. Untuk meghemat waktu dalam mengecek kehadiran siswa, dengan mengecek kehadiran, secara tidak langsung guru telah memberikan motivasi terhadap siswa, disiplin dalam mengikuti pembelajaran.
  3. Menciptakan Kesiapan Belajar Siswa merupakan salah satu prinsip belajar yang sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, guru perlu membantu mengembangkan kesiapan belajar dan menumbuhkan semangat siswa dalam belajar.
  4. Menciptakan Suasana Belajar yang Demokratis  yaitu menciptakan suasana belajar yang demokratis daapat dikondisikan melaului pendekatan proses belajar Cara Belajar Siswa Aktif. Untuk menciptakan suasana belajar yang demokratis guru harus membimbing siswa agar berani menjawab, berani bertanya, berani mengeluarkan ide. 
 b. Kegiatan Awal Pembelajaran

  1. Menimbulkan Motivasi dan Perhatian Siswa, membangkitakan motivasi dan perhatian siswa merupakan kegitanan yang perlu dilaksanakan pada setiap tahapan kegiatan pembelajaran. Khususnya pada tahap awal pembelajaran siswa perlu difokuskan perhatiannya pada materi yang akan dibahas.
  2. Memberi acuan , memberi acuan dapat diartikan sebagai upaya guru dalam menyampaikan secara spesifik dan singkat gambaran umum tentang hal yang akan dipelajari dan kegitan yang akan ditempuh selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan guru dalam memberikan acuan sebagi berikut: memberitahukan kemampuan yang diharapkan atau materi yang akan dipelajari.
  3. Membuat kaitan, kegiatan pembelajaran kaitan pada awaln pembelajaran biasanya dikenal dengan melakukan apersepsi. Cara guru dalam membuat kaitan: mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya, menunjukkan manfaat materi yang dipelajari, meminta siswa menggemukakan pengalaman yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas.
  4. Melaksanakan Tes Awal
     Tes awal atau pre-test dilaksanakan untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana materi atau bahan pelajaran yang akan dipelajari sudah dikuasai oleh siswa. Tes awal dapat dilakukan dengan cara lisan yang ditujukan pada beberapa siswa yang dianggap mewaakili siswa.

      Hal yang harus dilkukan guru dalam melaksanakan kegitan awal pembelajaran sebagai berikut: 
  1. Memahami kemampuan siswa.
  2. Dapat membangkitkan perhatian siswa sehinnga perhatian siswaterpusat pada pelajaran yang akan diikutinya.
  3. Dapat memberikan bimbingan belajar secara kelompok maupun individu.
  4. Dapat menciptakan interaksi edukatif yang efektif sehingga siswa merasakan adanya suasana belajar yang aman dan menyenangkan.
  5. Memberikan penguatan pada siswa.
  6. Menanamkan sikap disiplin pada siswa.

B.  Kegiatan Inti Dalam Pembelajaran

     Rusman ( 2017 : 21 ) Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yanag dilakukan secara interaktif , inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup, kretifitas dan kemandirian sesuai denagan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
    Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan denagan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang meliputi proses observasi, menanya, menggumpulkan informasi, dan komunikasi.
   Untuk pembelajaran yang berkenaan dengan KD yanng bersifat prosedure untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi agar peserta didik dapat melakukan pengamatan terhadap pemodelan atau demonstrasi oleh guru , peserta didik harus menirukan selanjutnya guru melakukakn pengecejekan dan pemberian umpan balik dan latihan lanjutan kepada peserta didik.

   Contoh kegiatan belajar:
  1. Mengamati, guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih siswa untuk memperhatikan ( melihat, membaca, mendengar ) hal yang penting dari suatu benda dan objek.
  2. Menanya, dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat.
  3. Mengumpulkan dan mengasosiasikan, tindak lanjut dari bertanya adalah menggalai dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu, peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak. Dari kegitan tersebut terkumpul sejumlah informasi , informasi tersebut menjadi dasar bagi kegitan berikutnya yaitu memproses informasi dengan infoermasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
  4. Mengkomunikasikan Hasil, kegiatan berikutnya alah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan dikelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik.  

C. Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran
    
     Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran adalah:

1. Melaksanakan penilaian akhir, penilaian belajar dalam kegiatan akhir pembelajaran (posttest) tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut. Kegiatan penilaian dalam pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru meliputi penilaian proses serta penilaian produk. Penilaian proses seperti yang telah dijelaskan pada kegiatan inti dalam pembelajaran. Sedangkan penilaian produk lebih menekankan pada kegiatan penilaian untuk mengetahui tentang sejauh mana hasil belajar siswa. Pada penilaian akhir dapat dilakukan dengan cara lisan maupun tulisan, yang perlu diperhatikan guru harus dapat mengkondisikan siswa. Supaya siswa secara maksimal dapat mengorganisasi (pemahaman) kembali tentang materi pelajaran yang telah dibahas.

2. Mengkaji hasil penilaian akhir, apabila teknik penilaian dilaksanakan secara lisan,maka dalam tahapan ini guru perlu memutuskan secara spontan dalam menganalisis/mengidentifikasi hasil belajar tersebut. Kemudian gabungkan dengan hasil penilaian proses, maka guru akan memperoleh gambaran kegiatan tindak lanjut yang bagaimanayang harus diberikan pada siswa.

3. Melaksanakan kegiatan tindak lanjut, dengan alternatif kegiatan di antaranya: a) Memberikan tugas atau latihan-latihan. b) Menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. c) Menugaskan membaca materi pelajaran tertentu. d) Memberikan motivasi/bimbingan belajar.

4.  Mengemukakan topik bahasan yang akan datang. Dalam kegiatan akhir di antaranya guru harus mengemukakan atau memberikan gambaran pada siswa tentang topik bahasan yang akan dipelajari pada pertemuan yang akan datang.

5.  Menutup pelajaran (biasakan murid menutup pelajaran dengan berdoa)


DAFTAR PUSTAKA
Sry Anitah. 2007. Strategi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.
Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.

Model - Model Belajar dan Rumpun Mengajar

TUGAS STRATEGI PEMBELAJARAN
MODEL-MODEL BELAJAR DAN RUMPUNAN MODEL MENGAJAR

Description: Image result for logo stkip adzkia

Oleh :
Elgi Novita Anggrani
1820172
PGSD 4.4
Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 ADZKIA PADANG
2020



Model-Model Belajar dan Rumpunan Mdoel Mengajar
A. Pengertian Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction ) 
            Model pengajaran langsung ( Direct Instruction ) adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah ( Arends, 1997 ). Model pembelajaran langsung ( Direct Instruction ) adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif. Dalam hal ini guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder,  gambar,  peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi). 

B. Tujuan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)

            Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara menggunakan mikroskop, dan bagaimana melakukan suatu eksperimen. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat diungkapkan dengan kata-kata), misalnya tentang konsep atom, elektron, proton, dan sebagainya. Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang IPA merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur, mikroskop, dan sebagainya merupakan contoh pengetahuan prosedural.
            Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas kegiatan khusus dan kegiatan berurutan. Misalnya, agar siswa terampil menggunakan alat destilasi untuk memisahkan campuran cair dengan cair (yang berbeda titik didihnya), memerlukan pengetahuan deklaratif tentang nama-nama bagian alat destilasi dan juga pengetahuan prosedural seperti bagaimana merangkai alat-alat destilasi, memanaskan cairan, dan seterusnya.
C. Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil, sebagai berikut: 
1). Orientasi. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan (5) menginformasikan kerangka pelajaran. 

2). Presentasi. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek; (2) pemberian contoh-contoh konsep; (3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan      (4) menjelaskan ulang hal-hal yang sulit. 

3). Latihan terstruktur. Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah. 

4). Latihan terbimbing. Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan. 

5). Latihan mandiri. Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini fdapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 80-90% dalam fase bimbingan latihan

Di lain pihak, Slavin mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks pembelajaran langsung yaitu:
1. Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa. Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapakan.
2. Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa.
3. Menyampaikan materi pelajran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh, mendemontrasikan konsep dam sebagainya.
4. Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman dan mengoreksi kesalahan konsep.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok.
6. Menilai kinerja siswa dan memberi umpan balik. Guru memberikan review terhadap hal-hal yang sudah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika perlu.
7. Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari.

D.Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL) 
            Adalah suatu  model pembelajaran yang dirancang pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah agar siswa mendapat pengetahuan penting. Dengan demikian diharapkan siswa mahir dalam memecahkan masalah, memiliki model belajar sendiri dan memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim.
Dengan pendekatan model PBL memberikan peluang bagi siswa untuk melakukan penelitian dengan berbasis masalah nyata dan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah sebaiknya memenuhi kriteria: kompleks, struktur tidak jelas, terbuka dan autentik.
Secara umum langkah-langkah model pembelajaran PBL menurut (Amif,2010:27) :
a. Menyadari Masalah.
Dimulai dengan kesadaran akan masalahyang harus dipecahkan.
Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah peserta didik
dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan
oleh manusia dan lingkungan sosial.
b. Merumuskan Masalah.
Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan
kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan
data-data yang harus dikumpulkan. Diharapkan peserta didik
dapat menentukan prioritas masalah.
c. Merumuskan Hipotesis.
Peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab akibat
dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan
berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.
d. Mengumpulkan Data.
Peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang relevan.
Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat
mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan
dalam berbagai tampilan sehingga sudah dipahami.
e. Menguji Hipotesis.
Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah dan
membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji.
f. Menetukan Pilihan Penyelesaian.
Kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan
dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan
yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.

DAFTAR PUSTAKA


Kardi, s. dan Nur, M.2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: University Press.
Amif, ( 2010, hlm. 27 ) Langkah- Langkah Proses Pembelajaran Problem Based Learning. Skripsi Prodi PGSD Universitas Pasundan Bandung.

Model Pembelajaran Koperatif

TUGAS 
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
“Model Pembelajaran Kooperatif"

Disusun Oleh:

Elgi Novita Anggrani
1820172
Kelas: 4.4 PGSD

Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari, M. Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN(STKIP) ADZKIA
PADANG
2020
Model Pembelajaran Kooperatif
A.     Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sugianto (2010:37)adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
B.     Karakteristik Pembelajaran Model Kooperatif
Menurut Suyanti.2010:99-100 karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu:
1.      Pembelajaran secara tim adaalah semua anggota tim(kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.      Didasarkan pada manejamen kooperatif adalah perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif.
3.       Kemauan untuk bekerja sama adalah saling membantu dan bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.
4.      Keterampilan bekerja sama adalah siswa perlu di dorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi antara anggota lain.
C.     Rumpun Model Pembelajaran
Menurut Joice dan weil .(1996: 57) Rumpun Model Pembelajaran:
1.      Model pembelajaran pengolahan informasi adalah bertitik tolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi yaitu : cara-cara manusia menanggapi rangsangan dari lingkungan, mengorganisasikan data, mengenali masalah dan mencoba mencari solusinya serta mengembangkan konsep-konsep bahasa untuk menanggani masalah tersebut.
2.      Rumpun model-model pembelajaran individu adalah memfokuskan pada pengembangan pribadi dengan menekankan pada proses mengkontruksi dan mengorganisasi realita yang memandang manusia sebagai pembuat makna.
D.    Model Pemrosesan Informasi
Model pemrosesan informasi yaitu, suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk menggolh informasi, memonitornya dan menyusun strategi berkenaan dengan infomasi dengan inti pendekatannya lebih menekan proses cara berpikir.
E.     Model Pembelajaran Personal
Pembelajaran secara personal adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing- masing individu.

Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran personal dari  segi:
1.      Tujuan pengajaran
2.      Siswa sebagai subjek belajar
3.      Guru sebagai pembelajar
4.      Program pembelajara
5.      Orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran
F.      Model Pembelajaran Sosial
1.      Menurut sagala(2003) dalam ruminiati (2006:1-15)
model pembelajaran sosial merupakan meodel yang lebih terfokus pada hubungan individu(siswa) dengan  individu lain (bukan guru ataupun teman sekelasnya. Dalam pembelajaran ini siswa terlibat dalam alam demokratis dan bekerja secara produktif di alam masyarakat.
2.      Menurut Uno Hamzah (2008:25)
model yang lebih menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain,terlibat dalam proses demokratis dan bekerjasama dengan masyarakat secara prodeuktif.

Pemilihan Metode Mengajar

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Tentang
Pemilihan Metode Mengajar

Disusun Oleh:
Elgi Novita Anggrani
1820172
PGSD 4.4

Dosen Pengampu
Yessi Rifmasari, M.Pd.


PENDIDIDKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2020

1. Hakikat dan faktor-faktor dalam pemilihan metode mengajar.

Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan melibatkan aktivitas siswa dan guru. Untuk mencapai tujuan tersebut deperlukan metode sebagai alternatif, sehingga dalam mencapai tujuan dapat maksimal. Metode mengajar yang digunakan haruslah bervariatif sehingga tidak menimbulkan kejenuhan aktivitas dalam proses pembelajaran.

a. Hakikat Metode Mengajar dalam Pembelajaran

Metode (method), menurut Fred Percival dan Henry Ellington (1984) adalah cara yang umum untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik atau mempraktikkan teori yang telah dipelajari dalam rangka mencapai tujuan belajar. 
Tardif dalam Muhibbin Syah (1995) bahwa metode diartikan sebagai cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan penyajian materi pelajaran kepada peserta didik.
Reigeluth (1983) mengartikan bahwa metode mencakup rumusan tentang pengorganisasian bahan ajar, strategi penyampaian, dan pengelolaan kegiatan dengan memperhatikan tujuan, hambatan, dan karakteristik peserta didik sehingga diperoleh hasil yang efektif,efisien, dan menimbulkan daya tarik pembelajaran.
Jadi metode mengajar berhubungan dengan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemudahan dalam rangka mempelajari bahan ajar yang disampaikan oleh guru.

b. Factor-faktor dalam pemilihan metode mengajar.

a. Tujuan Pembelajaran atau kompetensi Siswa

Tujuan pembelajaran merupakan pernyataan yang diharapkan dapat diketahui , disikapi, dan atau dilakukan siswa seetelah mengikuti pembelajaran.

a)Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan.
b) Tujuan bidang studi adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu mata pelajaran.
c) Tujuan pembelajaran (instruksional) adalah tujuan yang harus dicapai dalah suatu pokok bahasan tertentu.
Taxonomy Bloom menguraikan tentang tujuan yang bersifat khusus, yang sering mencakup 3 ranah, yaitu:

a. Kognitif.
a) Pengetahuan, kemampuan mengetahui, mengingat.
b) Pemahaman, kemampuan menerjemahkan, memahami.
c) Penerapan, kemampuan mengerjakan, membuat.
d)  Analisis, kemampuan mengkaji, menguraikan, membedakan dan mengidentifikasi.
e) Sintesis, kemampuan menggabungkan, mengelompokkan, menyusun.

b. Afektif.
a) Penerimaan.
b) Partisipasi.
c) Penilaian.

c. Psikomotor.
a) Persepsi, kemampuan berpendapat.
b) Kesiapan.
c) Gerakan terbimbing, kemampuan meniru.
d) Gerakan terbiasa, keterampilan berpegang pada pola.
e) Gerakan yang kompleks, keterampilan lincah, cepat, lancar.

Karakteristik Bahan Pelajaran/materi Pembelajaran

Aspek yang terdapat dalam materi pelajaran, yaitu:

a) Aspek konsep, merupakan substansi isi pelajaran yang behubungan dengan pengertian, atribut, karakteristik, label atau ide dan gagasan tertentu.

b) Aspek fakta, isi peajaran yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, data yang memiliki esensi objek dan waktu.
c) Aspek prinsip, isi pelajaran yang berhubungan dengan aturan, dalil, hokum, ketentuan, dan prosedur.

d) Aspek nilai, meteri pelajaran yang berhubungan dengan baik buruk, salah benarnya suatu perilaku.


e) Aspek keterampilan intelektual, materi pelejaran yang berhubungan  dengan pembentukan kemampuan penyelesaian masalah.


b. Waktu yang Digunakan
Selalu memperhatikan alokasi waktu  agar proses mengajar dapat optimal.

c. Faktor Siswa
Mempertimbangkan banyaknya siswa dan dan mempertimbangkan aspek kesegaran mental (faktor antusias dan kelelahan).

d. Fasilitas, Media, dan Sumber Belajar
Prinsip-prinsip belajar yang dijadikan landasan dalam pembelajaran diantaranya adalah ketersedian fasilitas, media dan sumber belajar.

2.  Jenis-jenis metode mengajar.

a. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar.
Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.

b. metode diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.

c. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya, Bagaimana proses bekerjanya, Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.

Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c.  Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.

Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.

d. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:

a)      Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas.
b)     Metode ceramah plus diskusi dan tugas.
c)      Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL).

e. Metode Latihan Keterampilan
Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.

f. Peer Theaching Method
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.

g. Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.

3. Hubungan pengalaman belajar dengan metode mengajar.
Setiap metode mengajar masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dalam membentuk pengalaman belajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling menunjang. Pengalaman belajar yang diharapkan adalah terjadi adanya aktivitas belajar yang tinggi dari siswa.
Pendekatan yang digunakan untuk membentuk pengalaman siswa adalah cenderung dengan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi dalam diri siswa.

Daftar pustaka:

Abimanyu Soli, Dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Di Sd. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Strategi Pembelajaran Dan Pemilihannya. Jakarta: Hal: 25-30.
Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Egc.

Wednesday, March 18, 2020

Hakikat Strategi Pembelajaran

TUGAS STRATEGI PEMBELAJARAN

HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN

 

OLEH :

Elgi Novita Anggrani 

1820172

DOSEN PENGAMPU :

Yessi Rifmasari, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

ADZKIA PADANG

2020


HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN

A.    Konsep Dan Prinsip Belajar Dan Pembelajaran

1.      Pengertian Belajar

Belajar menunjukan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang disadari atau disengaja. Aktivitas ini menunjukan pada keaktifan seseorang dalam melakukan aspek mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya. Kegiatan belajar juga dimaknai sebagai interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungannya dalam hal ini adalah obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan. 

Tokoh psikologi belajar memiliki persepsi dan penekanan tersendiri tentang hakikat belajar dan proses ke arah perubahan sebagai hasil belajar. Berikut ini adalah beberapa kelompok teori yang memberikan pandangan khusus tentang belajar :

a.       Behaviorisme ; manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang memberikan pengalaman tertentu kepadanya.

b.      Kognitivisme ; tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi atau pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan.

c.       Psikologi Sosial ; proses belajar bukanlah proses yang terjadi dalam keadaan menyendiri, akan tetapi harus melalui interaksi.

d.      Teori Belajar Gagne ; belajar merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah, akan tetapi hanya terjadi  dengan kondisi tertentu.

e.       Teori Fitrah ; seseorang anak akan dapat mengembangkan potensi baik yang telah dibawanya sejak lahir melalui pendidikan.

Dari teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku dan perubahan pemahaman, yang pada mulanya seseorang anak tidak dibekali dengan potensi fitrah, kemudian dengan terjadinya proses belajar maka seseorang anak berubah tingkah laku dan pemahamannya semakin bertambah. 

2.      Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, bahwa pembelajaran adalah proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar yang berlangsung dalam situasi lingkungan belajar. Menurut Trianto, pembelajaran adalah aspek kegiatan yang kompleks dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya. Secara sederhana, pembelajaran dapat diartikan sebagai produk interaktif berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.

Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen yang satu sama lain saling berinteraksi, yaitu sebagai berikut :

a.       Guru dan Siswa

b.      Tujuan Pembelajaran ; pedoman dan sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan mengajar.

c.       Materi Pembelajaran ; substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar dan mengajar.

d.      Metode Pembelajaran ; cara untuk mencapai pembelajaran.

e.       Alat Pembelajaran ; media yang berfungsi sebagai alat bantu untuk memperlancar pembelajaran agar lebih efesien dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

f.       Evaluasi ; sebagai tolak ukur keberhasilan dalam pembelajaran dan umpan balik guru atas kinerja yang yang telah dilakukannya dalam proses pembelajaran.

B.     Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode Dan Teknik Pembelajaran

1.      Pendekatan Pembelajaran

dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

2.      Strategi Pembelajaran

Menurut Hamzah B Uno (2008 : 45) strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan menurut Dick dan Carey (2005 : 45) strategi pembelajaran adalah komponen dari suatu set materi termasuk aktivitas sebelum pembelajaran dan partisipasi peserta didik yang merupakan prosedur pembelajaran yang digunakan kegiatan selanjutnya.

3.      Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran agar mudah dipahami oleh siswa. Langkah-langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan pembelajaran.

4.      Teknik Pembelajaran

Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan sesuatu metode secara spesifik.

C.    Faktor-Fator Penentu Dalam Pemilihan Strategi Pembelajaran

1.      Karakteristik Peserta Didik ; kematangan mental dan kecakapan intelektual, kondisi fisik dan kecakapan psikomotor,  umur, dan jenis kelamin.

2.      Kompetensi Dasar yang Diharapkan ; pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direflesikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah peserta didik menyelesaikan suatu aspek mata pelajaran tertentu.

3.      Bahan Ajar ; merupakan seperangkat informasi yang harus diserap peserta didik melalui pembelajaran yang menyenangkan.

4.      Sarana Prasarana ; segala sesuatu yang berlangsung dapat dipakai peserta didik dalam belajar untuk mencapai suatu kompetensi dan penunjang utama terselenggaranya suatu proses.

5.      Kemampuan dan kecakapan pengajar

D.    Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran

1.      Strategi Pembelajaran Langsung

Strategi Pembelajaran Langsung Merupakan bentuk dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru. Dikatakan demikin sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan.

2.      Strategi Pembelajaran Cooperative Learning

Cooperative Learning adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang biasa terdiri atas 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas.

3.      Strategi Pembelajaran Problem Solving

Strategi Pembelajaran Problem Solving adalah teknik untuk membantu  siswa agar memahami  dan menguasai materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan.

4.      Strategi Elaborasi

Strategi Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori di otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan dan gabungan antara informasi baru dengan yang pernah ada.

5.      Strategi Pembelajaran CTL

Merupakan strategi yang belajar yang mengaitkan antara materi dengan kehidupan nyata peserta didik, membantu menghubungan dengan materi bahan yang konkret.

6.      Strategi Peningkatan Kemampuan Berfikir

Strategi Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah Menekankan pada kemampuan berfikir siswa melalui pengalaman anak dan sebagai bahan ajar dalam memecahkan masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Pane Aprida, dkk. 2017. Belajar Dan Pembelajaran. Jurnal Kajian Ilmu Keislaman. Vol.03 No.2.